Media Berbagi Ilmu

Selamat datang di blogg Media Berbagi Ilmu.

Rabu, 22 Februari 2012

CERITA FIKSI/ CERPEN



CERITA FIKSI/ CERPEN

Cerita fiksi atau yang biasa kita kenal dengan cerita pendek (cerpen)  adalah sebuah cerita rekaan, khayalan, imajiner, hasil olahan dari sang pengarang tentang alur, tema, setting, maupun tokoh atau penokohan. Namun, cerita fiksi tidak harus berasal dari cerita yang imajiner/ khayalan, melainkan bisa juga berasal dari kisah nyata/ fakta, tetapi tetap memiliki unsur fiksi/ rekaan.
cerita fiksi tergolong kedalam beberapa ruang lingkup, diantaranya:

1.      Puisi, yaitu bait bait kalimat yang memiliki cerita tersendiri tentang sesuatu hal. Walaupun puisi terkadang di angkat dari kisah-kisah yang nyata yang pernah atau telah terjadi, namun puisi dapat  tergolong kedalam cerita yang imajiner.
Contoh: Puisi tentang tsunami di Aceh, tentang bencana gempa, dll.

2.      Prosa
Prosa terbagi menjadi dua, yaitu cerpen dan novel (roman). Sehingga dalam prosa inilah cerpen dan novel berada. Ada juga jenis prosa yang lebih pendek dari novel, tetapi lebih panjang dari cerpen yang disebut novellet. Cerpen, novelett atau novel, tergolong tulisan kreatif (creative writing).

3.      Lakon
Lakon disini terbagi kedalam lakon yang tradisional dan modern.

4.      Film
Film adalah satu bentuk cerita yang di buat oleh sang pengarang yang diwujudkan dalam bentuk visual, memiliki gambar, alur cerita, setting yang jelas. Film dapat juga diangkat dari cerita yang fiksi namun juga dapat diangkat dari cerita yang nyata. Seperti misalnya film “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata.

Cerpen dan Novel
Seperti yang teruraikan diatas, cerpen adalah cerita pendek yang berupa imajinasi si pengarang ataupun cerita factual yang memiliki unsure fiksi. Dalam cerpen, cerita relatif tidak dikembangkan secara detail sehingga ceritanya bisa dikemas menjadi pendek. Namun tidak selalu begitu, secara khusus cerpen juga bisa menjadi cerita yang panjang, seperti cerpen Umar Kayam (Sri Suamarah dan bawuk). Sedangkan novel umumnya bias lebih panjang dari cerpen, karena didalam novel semua unsur seperti konflik, setting, plot, alur, tokoh-penokohan, dapat dikembangkan dengan bebas sehingga cerita dapat  dibawakan secara detail. 

Unsur-Unsur Fiksi (Cerpen):
1.      Tema
Tema merupakan salah satu unsur terpenting dalam cerita, tanpa adanya tema, sebuah cerita tidak akan bisa terbangun.

2.      Tokoh atau Penokohan
Tokoh dalam sebuah cerita baik cerita rekaan maupun fakta, merupakan salah satu unsur yang juga penting. Tokoh merupakan pelaku cerita, tokoh itu sendiri terbagi menjadi tokoh protagonis dan antagonis. Walaupun kedua tokoh ini saling berlawanan, namun bukan berarti keduanya musuh. Hanya saja istilah antagonis atau protagonis dipakai untuk membedakan tokoh yang berbeda kepentingan agar konflik didalam cerita dapat terbangun dengan baik. Tokoh dalam cerita pun tidak harus manusia saja, melainkan dapat juga benda-benda lain seperti hewan, tumbuhan, air, angin, dll.

Adapun Metode penokohan dibagi menjadi dua, yaitu:
1. secara langsung/analitik
2. secara tidak langsung/dramatik :
a. Digambarkan melalui tempat/ lingkuangan sang tokoh.
b. Digambarkan melalui percakapan sang tokoh/ tokoh lain.
c. Digambarkan melaui pikiran sang tokoh/ tokoh lain.

3.      Konflik
Konflik juga merupakan unsur yang penting didalam membangun sebuah cerita. Dengan adanya konflik ini, cerita seakan menjadi hidup, tidak hanya menjadi sebuah cerita saja. Ibaratnya, konflik dalam cerita adalah warna dalam plot cerita, konflik dapat memberikan kesan tersendiri bagi si pembaca, bisa mendebarkan, mengharukan, serta ada cerita yang dapat menarik perhatian pembaca.

4.      Setting
Unsur yang ke-empat ini adalah setting. Setting merupakan unsur yang juga penting didalam cerita. Latar dapat berupa tempat, waktu, atau keadaan. Dengan demikian, latar (setting) berkaitan dengan tempat cerita berlangsung, kapan terjadinya cerita tersebut, atau dalam keadaan bagaimana cerita tersebut terjadi. Didalam setting terdapat waktu dan tempat yang digambarkan, misalnya saja: hari, jam, masa, minggu, dll. Contohnya ketika awal abad ke-20 (1908) Cerpen Bumi Manusia & jejak langkah.
Tempat didalam cerita dapat dibangun dengan tempat yang real (nyata) dan juga imajinasi (Khayalan/ fiktip).

Adapun penggolongan cerpen antara lain adalah:
a.       Cerita Pendek (short story)
b.      Cerita pendek yang pendek (short, short story)
c.       Cerita pendek yang sangat pendek (very short-short story)

Biasanya cerpen yang ideal adalah sebagai berikut:
·         Ditulis terdiri dari 3.000 atau 4.000 kata.
·         Bahasa dan isinya mudah dipahami. Dengan demikian, cerpen tersebut dapat di baca kurang dari satu jam dan isinya tidak terlupakan oleh pembacanya sepanjang waktu.

Walaupun cerita dari cerpen yang dibuat beraneka ragam, akan tetapi pasti memiliki persamaan, yaitu:
·         Bercerita tentang manusia atau sesuatu yang dimanusiakan.
·         Menyajikan satu peristiwa (lampau, sekarang atau yang akan datang).
·         Jumlah tokoh yang ditampilkan satu atau paling banyak tiga orang bahkan lebih.
·         Kurun waktu peristiwa sangat terbatas.
·         Pada umumnya, karya dipublikasikan di media masa sebelum diterbitkan dalam bentuk kumpulan cerpen.
·         Mengandung elemen plot, sudut pandang, tokoh/ pelaku, dialog, konflik, setting dan suasana hati.
Langkah-langkah dalam menulis cerpen antara lain:
1.       Observasi (pengamatan) dan Menentukan Tema
2.      Menyusun Rincian Tema
3.      Memilih Kata
Sedangkan cara memulai menulis cerpen adalah:
1.      Satu cerpen hanya boleh fokus pada satu tema, dimana tema sekaligus merupakan pesan moral yang hendak disampaikan kepada pembaca.
2.      Tema cerita harus fokus, sempit, ketat, terbatas. Hindari godaan untuk memperlebar tema.
3.      Struktur Cerpen : Dimulai dengan memunculkan masalah yang dihadapi karakter, mengetengahkan bagaimana cara karakter mengatasi masalahnya & diakhiri dengan perubahan terhadap karakter sebagai pelajaran/akibat dari permasalahan itu.
4.      Tak cukup ruang untuk mendeskripsikan latar tempat. Bila anda menuliskan tindakan seorang tokoh memberi uang tip pada room boy, maka tak perlu lagi menjelaskan kepada pembaca bahwa tempat kejadian itu  berlansung disebuah hotel.
5.      Untuk mengefektifkan ruang, maka jenis/ bentuk konflik yang terjadi harus jelas dan dapat segera diidentifikasi pembaca sejak paragraf pembuka. Kalimat pertama harus menggugah pembaca untuk bertanya.
6.      Cerpen tidak mengenal plot yang kompleks/rumit. Tapi harus ada satu konflik hebat yang terjadi diantara karakter (baik internal maupun eksternal)
7.      Karakter harus memiliki satu konflik internal (versus dirinya sendiri) dan satu konflik eksternal (versus karakter lain, masyarakat atau dengan alam). Seluruh cerita bermuara pada konflik itu.
8.      Puncak cerita adalah saat krisis pada konflik, dimana tokoh utamanya membuat keputusan yang menuju kearah penyelesaian konflik.
9.      Akhir cerita adalah saat tokoh belajar dari akibat krisis konflik tersebut.
10.  Cukup hadirkan 2 atau maksimal 3 karakter. Berfokuslah pada 1 karakter saja untuk ditonjolkan, dengan catatan hindari menceritakan latar belakang (backstory) karakter bersangkutan.
11.  Karakter ditunjukkan (show), tidak dikatakan (don’t tell) lewat daftar ciri-ciri fisik atau sifatnya. Bukan berarti melukiskannya secara rinci. Contohnya, karakter yang memakai tanda seru setiap akhir dialog akan teridentifiksi dengan sendirinya oleh pembaca sebagai karakter pemarah, arogan, egois.
12.  Sedapat mungkin hindari kata sifat dan kata keterangan. Utamakanlah pemakaian kata kerja aktif, bukan kata kerja pasif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beri komentarmu di sini ^^