Media Berbagi Ilmu

Selamat datang di blogg Media Berbagi Ilmu.

Jumat, 14 Oktober 2011

Feature - Mencari Rongsokan Demi Ibu dan Ayah

Menjadi pencari barang-barang rongsokan, tentu bukanlah profesi yang diinginkan oleh siapapun. Namun, tuntutan hidup dan himpitan ekonomilah yang menjadi garis keras dan membuat profesi tersebut sebagai urat nadi kehidupan sebagian orang. Seperti yang dijalani Sahrul (11), seorang anak kelas lima Madrasah IftidaiyyahAs-Syafi’iyah 09, Parung, Kabupaten Bogor. Diusianya yang masih belia iai sudah berusaha keras untuk mencari nafkah dalam membantu  kedua orang tuanya. Sahrul yang sehari-hari hanya seorang anak dari keluarga yang sederhana, mengaku tidak pernah mengeluh dalam melakukan pekerjaannya sebagai pencari barang rongsokan. Yang ia tahu hanya berusaha dan terus mencari sisa-sisa barang bekas yang sudah tidak terpakai lagi.

     Abdul Majid ayahnya, juga berprofesi sebagai pencari barang rongsokan di sekitar rumahnya, di Jalan Gotong Royong RT. 004/RW. 006 Desa Cogreg, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor. Sedangkan Sofiah ibunya, hanya seorang penjahit rumahan, itu pun mesin jahit yang digunakannya milik tetangga mereka sehingga Sofiah masih harus menyetorkan uang hasil menjahitnya kepada pemilik mesin.

     Penghasilan yang tidak menentu bahkan terkadang kurang, rupanya membuat anak ke dua dari tiga bersaudara ini bertekad untuk membantu sang ayah untuk mencari barang rongsokan. Sekalipun jarak yang harus mereka tempuh cukup jauh, tapi Sahrul mengaku tidak pernah mengeluh kepada sang ayah. Sahrul begitu setia menemani ayahnya dalam mencari dan mengumpulkan satu persatu barang rongsokan. Semuanya mereka kumpulkan seperti limbah botol air kemasan, kaleng, plastik, atau barang rongsokan lainnya yang memang bisa mereka kumpulkan dan bisa mereka jual ke pengepul.

     Di usianya yang masih belia itu, Sahrul rupanya mampu membagi waktunya dengan baik. Tugas sekolah dan membantu sang ayah sering menuntut Sahrul dalam berpikir. Namun, bukan Sahrul namanya yang selalu berusaha menjadi anak yang tegar dan menghadapi semua tantangannya sendiri. Sahrul mmengaku selalu mengerjakan tugas-tugasnya sepulang ia sekolah sebelum akhirnya menemani sang ayah mencari rongsokan. Bahkan, Sahrul mengaku ia sering membawa tugas sekolahnya sambil mencari rongsokan. “Kalau lagi istirahat baru saya kerjain PR, sedangkan ayah istirahat. Kadang dibawah pohon atau dimana aja yang enak buat istirahat,” kata Sahrul. Cuaca yang kadang tidak bersahabat juga menjadi tantangan bagi ia dan ayahnya, terik matahari hingga lebatnya hujan sudah pernah mereka lalui bersama. Tapi mereka tetap tegar menghadapinya. “Sedihnya kalau lagi hujan deres dan banyak petir, kadang saya sama ayah kehujanan dan kedinginan dijalanan, dan sampe di rumah ibu selalu menyambut kami karena khawatir kami kenapa-kenapa,” ungkapnya.

     Menjadi seorang pemulung rongsokan tentu bukanlah kemauan Sahrul, batinnya yang masih kecil dan merindukan suasana bermain selayaknya anak-anak kecil lainnya, diakui Sahrul menjadi kesedihan tersendiri yang tidak bisa ia tahan. Namun, demi sang ibu dan ayah ia selalu berusaha tegar dan rela mengorbankan sebagian bahkan semua masa kecilnya demi membantu mereka.

     Profesi sang ayah ini juga rupanya terkadang menjadi bahan ejekan oleh teman-teman Sahrul di sekolahnya, ia mengaku sering mendapatkan cemoohan dari temannya karena profesi sang ayah, tapi lagi-lagi ia mengeluarkan sikap bijaknya. Ia mengaku tidak pernah malu bahkan ia bangga dengan sang ayah yang berjuang keras demi ia dan ibunya. “Sering diledekin tapi saya enggak pernah mikirinnya, saya cuekin aja, malah saya bangga sama bapa yang bekerja keras sebagai pengumpul rongsokan,” ungkap Sahrul saat di wawancara.

     Sahrul juga mengaku bahwa penghasilan mereka tidak pernah menentu karena tergantung dari jumlah barang rongsokan yang berhasil mereka kumpulkan dan mereka serahkan kepada pengepul setiap satu minggu sekali. “Kalau dapat banyak Alhamdulillah  seminggu dapet Rp50.000, tapi kalau tidak ya engga ada,” tambah Sahrul sambil tersenyum.
Begitu pula dengan penghasilan sang ibu yang sangat minim, menjadi kuli penjahit tentu tidak memberikan penghasilan yang menjanjikan bagi keluarga mereka.

     Dibalik semangat Sahrul itu, rupanya ia juga memiliki cita-cita yang mulia. Ia ingin menjadi seorang pesepak bola nasional agar bisa membela negaranya. Ia mengaku terinspirasi dari Eloko Gonjales, pemain Timnas Indonesia yang menjadi pesepak bola idolanya. Sahrul memang bukan anak kecil biasa, di usianya yang masih di bawah umur, ia mampu menunjukan kedewasaan berpikirnya. Sedangkan di luar sana, mungkin masih banyak Sahrul-Sahrul yang lainnya yang akan lebihm membuat kita miris dengan cerita hidup mereka.


.......closing........
Tulisan ini aku buat dari hasil wawancara dengan seorang anak 11 tahun bernama Sahrul. Sahrul memiliki paras yang baik, ia pun begitu sopan saat aku melontarkan beberapa pertanyaan seputar kehidupannya.

Semoga… ini bisa menjadikan pelajaran tersendiri bagi kita agar lebih menghargai kedua orang tua kita dan menghargai orang-orang seperti Sahrul.

Senin, 03 Oktober 2011 Pukul 20:27 WIB
Oleh: Faisal Abduh Habibullah
Foto Sahrul, Awalnya ia malu dan tidak mau di foto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beri komentarmu di sini ^^